Powered By Blogger

Selasa, 19 April 2011

Mengenal EQ, IQ dan SQ, dan Keterkaitannya

Sesungguhnya manusia terlahir dengan segala kesempurnaan dan potensi yang ada pada dirinya. Salah satu kesempurnaan itu ada pada otak kita selaku manusia. Ini terlihat jelas ketika fikiran anda diolah sedemikian rupa, anda akan menemukan sesuatu yang luar biasa. 

Ada ungkapan “kenalilah dirimu” sepertinya ini adalah tolak ukur dari segala aspek kehidupan. Namun ketahuilah sesungguhnya itu tidak hanya disandarkan pada fikiran belaka. Potensi IQ (intelektual question) dalam karier kehidupan hanyalah sebatas syarat minimal meraih keberhasilan, terbukti banyak manusia yang mempunyai kecerdasan intelektual tinggi trpuruk di tengah persaingan hidup, sebaliknya banyak orang yang mempunyai kecerdasan intelektual biasa biasa saja, namun seringkali keberhasilan ada di tangan mereka. Apakah itu seuatu yang mustahil, kalau begitu bagaimana bisa keberhasilan itu berujud nyata tanpa berfikir? Ini tidak lagi menjadi sesuatu untuk dipertanyakan.sebelumnya anda perlu menyadari “sesungguhnya manusia yang luar biasa adalah manusia yang cerdas, yang tidak hanya disandarkan pada kepintaran". Cerdas adalah mereka yang mempotensikan dirinya dan mengolah sedemikian rupa segala kelebihan baik yang tersirat maupun yang tersurat di dalam dirinya menuju suatu tujuan tertentu akan dirinya,hingga pada tahap begini anda akan menemukan 1+1 tidak lagi sampai 2, bahkan lebih. Apakah ini diasandarakan hanya pada otak? Tidak sama sekali.
 
Sepintas kita menilai bahwasanya orang hebat adalah mereka yang sanggup berhitung. Paham yang demikian ini berkembang pesat di tengah tengah masyarakat. Tapi sebenarnya ini adalah salah. Dengan research yang dilakukan Institut Teknologi Carnigie telah menganalisa tentang catatan kesuksesan terhadap 10.000 orang hingga disimpulkan “kesuksesan itu hanya 15% saja yang dilatar belakangi kemampuan berfikir,(otak) namun 85% diantarnya adalah faktor faktor ke pribadian (EQ)".
 
Jadi, dimana posisi kecerdasan otak pada manusia dan kenapa bisa kepribadian adalah sumber utama dalam kunci kesuksesan? Semua itu ada pada konsep EQ yang belakangan ini menjamur dalam sebuah keilmuan tertentu. Pada dasarnya kesempurnaan yang ada pada diri mnusia adalah penggabungan dari unsur SQ, IQ dan EQ yang mereka miliki. U.S. Ramachandra dan Michael Persinger menemukan otak sebagai landasan eksistensi SQ( kecerdasan spiritual) yang berfungsi sebagai hardwer pada otak manusia, kemudian Ary ginanjar menemukan ESQ sebagai softwer nya dan merupakan sistem tepadu yang sistematis untuk mensinergiskan tiga landasan kecerdasan dalam satu sistem sekaligus yaitu: IQ, EQ dan SQ. Ketiga konsep ini merupakan suatu sistem yang tidak bisa dipisahkan pada setiap unsur nya. Unik nya adalah keseluruhan kesempurnaan sitem kecerdasan pada manusia tidak terlepas dari faktor agama sebagai landasnya. 

SQ dibentuk oleh ihsan, EQ dibangun oleh enam prinsip rukun iman dan faktor tingkah laku dibangun oleh lima langkah rukun islam.
Bermula dari kata “sukses” ketika seseorang berhasil mencapai kesuksesan, acap kali ia diserang rasa koong dan hampa dalam celah batin kehidupannya, Setelah prestasi puncak telah dipijak ketika semua pemuasan kebendaan telah diraih, dan setelah uang hasil usaha berada dalam genggaman, ia tak lagi tahu kemana akan melangkah. Untuk tujuan apa semua prestasi itu diraihnya, hingga hampir hampir diperbudak uang serta waktu tanpa tau dan mengerti dimana ia harus berpijak. Pada saat itulah ESQ memberikan jawaban atas permasalahan dimensi perasaan san tujuan tujuan tersebut. ESQ sebagai sebuah metode dan konsep yang jelas dan pasti adalah jawaban dari kekosongan batin sang jiwa.
Itu adalah konsep universal yang mampu mengantarkan seseorang pada prediket kepuasan baik pada dirinya maupun orang lain. ESQ pula yang yabg dapat menghambat segala hal yang kontraduktif terhadap kemajuan manusia. Tidaj diragukan lagi, ketika fakta berbicara bahwa orang yang memiliki kecerdasan otak saja, punya gelar tinggi belum tentu sukses berkiprah di dunia kerja.
Seringlaki yang berpendidikan formal lebih rendah ternyata mampu berhasil. Ini terjadi ketika program pendididakan hanya terpusat pada kecerdasan akal (IQ), padahal perlu pengembangan bagaimana untuk menyelaraskanya dengan kecerdasan emotional (EQ) seperti ketangguhan inisiatif, optimis, kemampuan beradaptasi dan kreativitas. Keseluruhan ini dibangun dalam objek mentalitas.Menurut survei nasional di Amerika, apa yang diinginkan oleh para pemberi kerja adalah keterampilan teknik, diantaranya: kemampuan mendengar, menangkap hal yang tersurat dan yang tersira, berkomunikasi secara lisan, adaptasi, kreativitas, ketahanan mental terhadap kegagalan serta kepercayaan diri. Linda Keegan, salah seorang vice Presidenc berpendapat “kecerdasan emosi (EQ) harus menjadi dasar setiap pelatihan management".
 
Kemampuan akademik, nilai rafor, predikat kelulusan, dan pendidikan tinggi tidak bisa menjadi tolak ukur seberapa baik kinerja seseorang dalam pekerjaannya. Mc. Cleand dalam makalahnya “testing for competence rather than intelligence 1973” dijelaskan tentang seperangkat kecakapan khusus seperti simpati, disiplin dan inisiatif akan membedakan antara mereka yang sukses sebagai bintang kerja dengan hanya sebatas bertahan dilapangan pekerejaan. Perusahaan-perusahaan raksasa dunia telah menyadari dan menyimpulkan bahwasanya inti dari kemampuan pribadi dan sosial yang merupakan kunci utama keberhasilan seseorang sesungguhnya adalah kecerdasan emotional (EQ). Senada dengan yang diungkapkan Daniel Goleman bahwa social awareness adalah pemicu awal gerakan berikutnya seperti social skils, self management kemudian self awarenes.
 
Permasalahanya adalah seberapa jujur anda kepada diri anda sendiri,seberapa cermat anda merasakan perasaan terdalam pada diri anda, seringkah anda memperdulikannya? Sederhananya (EQ) adalah kemampuan untuk merasa. Kunci kecerdasan emosi ada pada kejujuran akan suara hati anda, itulah yang akan menuntun, memberi rasa aman, pedoman kekuatan serta kebijaksanaan. Disinilah anda dituntut untuk menggunakan kesadaran diri (self awareness) untuk memeriksa peta diri anda, jika anda menghargai prinsip yang benar maka paradigma anda sesungguhnya berdasarkan pada prinsip dan kentataan dimana suara hati berperan sebagai kompasny, maka bacalah yang tersirat pada diri anda sendiri. Selanjutnya, (EQ) adalah jawaban atas semua permasalahan yang menyangkut interaksi sosial didalam masyarakat. Penggabungan kecerdasan emotional dan kecerdasan berfikir adalah suatu metode yang akan mengenali diri kita sendiri. Kesalahan dalam berintegrasi salah satunya dilatarbelakangi kesalahan pemahaman dalam mengolah informasi dan sudut pandang yang berbeda. 

Dari penjelasan penjelasan sebelumnya dapat dikatakan bahwasanya “orang yang cerdas adalah mereka yang mengenal diri mereka sendiri dan mampu mengelola serta menekan perasaanya dengan fikiranya ketika ia benar dan juga mampu mencoba melenyapkan fikiranya dengan perasaan ketika ia salah” dua hal ini adalah kunci untuk mengenali diri sendiri. Permasalah muncul ketika manusia tidak menyadari dan mengolah ke-2 aspek tersebut dengan benar. Adakalanya perasaan anda muncul dan mendominasi kebenaran. Dalam keadaan ini sebenarnya adalah sesuatu yang juga tidak dapat dihindari, tergantung bagaimana pribadi seseorang. Kebanyakan kesalah pahaman yang lain muncul ketika kebenaran tidak lagi disandarkan pada logika. Perasaan adalah sesuatu yang halus dan peka, apabila ini tidak diimbangi dengan kemampuan berfikir yang kongkrit dan kesadaran diri, maka banyak orang yang diperbudak dengan perasaan mereka sendiri.
 
Dalam berintegrasi, masyarakat adalah sorotan tajam dalam mengimplikasikan seluruh aspek kehidupan. Ini lah yang menjadi objek kajian atau lapangan dalam mengaplikasikn kecerdasan emotional (EQ) sebagai koridor koridor tersendiri, kecerdasan omotional adalah kunci dasar untuk dalam beradaptasi dalam masyarakat, hasilnya adalah masa depan,dalam artian sempitnya kesuksesan itu bagaimana dan sejauh mana anda mengenali diri anda sendiri dalam upaya mengenali orang lain. Karena selaku mahkluk zon politicon yang akan menimbulkan ketergantungan diri kepada orang lain, begitu juga kesuksesan anda. 


Pada hakikatnya sisi inilah yang harus kita kenali dan temukan pada jati diri kita sendiri,caranya adalah “jadikan dirimu berada dalam posisi mereka,karena disaat begitulah anda akan mengenali dan merasakan apa yang mereka rasakan, dan apa yang mereka inginkan akan potensimu dalam dunia kerja” maka temukan lah apa yang bisa anda berikan kepada masa depan dalam konteks yang dimaksudkan diatas, EQ, IQ serta SQ sebagai landasan anda dalam melangkah.
Agustin Ary Ginanjar, ESQ, Emotional Spiritual Questient,Arga, Jakarta,2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar